BRC – Toba Samosir

Brotherhood & Safety Riding is Our Priority

Sekedar Renungan Tentang Kalimat Safety Riding

Posted by Bambang Irwanto pada 30 April 2011

Cuma sekedar renungan aja… sudah sangat sering kita melihat banyak orang yang berkendar sepeda motor, dan terbagi-bagi dalam kategori (menurut gue sendiri): pengendara yang sadar akan kehadiran pengendara lain, pengendara yang tidak sadar akan pengendara lain dan pengendara yang sadar akan pengendara lain tapi mengacuhkannya. Banyak respon yang diberikan pada pengendara kategori ketiga, misalnya memarahi (meneriaki), menendang, memukul si pengendara tersebut atau justru melakukan tindakan yang bisa menyebabkan pengendara tersebut mengalami celaka atau kejadian yang tidak menyenangkan. Gue jadi berpikir, apakah dengan kita mengetahui cara berkendara yang baik kita boleh menjadi hakim bagi orang lain tersebut?? Memang, sangat normal apabila kita di jalan panas-panasan, keringetan, capek, di potong jalur kita secara sembarangan atau melihat orang yang seenaknya sendiri cara berkendaranya kita jadi panas atau sebal, tapi apakah jawabannya dengan emosi?

Sangat banyak sekali postingan yang berkaitan dengan pengendalian emosi yang kurang bijak, gue juga masih belum cukup baik dalam menanggapi hal-hal tersebut, kadang juga masih terpancing untuk melakukan kekerasan baik fisik ataupun verbal. Apakah, dengan kita mempublikasikan hal buruk yang kita lakukan ke orang lain itu membuat bangga? Pernahkah kita berpikir apabila kita melakukan sesuatu yang buruk pada orang lain, pasti kita akan mengalami hal tersebut juga, tapi kita di pihak korban, kita sebut sebagai karma. Apakah saat kita melakukan kekerasan kita pernah berpikir, bahwa si korban kita tersebut mungkin masih memiliki orang yang sedang menantikan mereka? Memang cukup normal kalau kita berpikiran bahwa saat terjadi sesuatu, daripada kita yang kena duluan mendingan kita yang duluan melakukan itu ke lawan kita. Tapi, bukankan kita cukup pandai untuk memutuskan mana yang baik dan mana yang buruk?

Beberapa saat yang lalu, saya mendapatkan cerita dari seorang teman yang mengaku bahwa ia cukup banyak tahu mengenai berkendara yang aman, ia bercerita bahwa ia baru saja menyebabkan pengendara lain menyenggol motornya sehingga pengendara tersebut jatuh. Ia mengaku pada saya karena ia sebal melihat si pengendara tersebut berkendara sambil ber sms ria, tanpa helm, dan menggunakan sandal jepit. Ia bercerita dengan sangat senang seakan itu adalah suatu hal yang memnbanggakan karena menurutnya itu akan memberikan pelajaran berharga bagi si pengendara tersebut. Menurut gue saat itu(cuma nggak keucap) gimana kalo orang itu saat jatuh tertabrak mobil, lalu mati, dan orang yang diboncengnya cedera parah? Apa dia mau mengganti biaya perawatannya? Apa itu satu-satunya cara untuk memberikan contoh yang baik bagi pembelajaran si orang tersebut? kalo menurutnya, itu cukup bagus.

Tiba-tiba saya terpikir, bagaimana bila ada salah satu anggota keluarganya yang cukup dekat dengannya, mengalami hal tersebut?? Bukankah responnya adalah marah dan berusaha mencari tahu siapa pelakunya dan melakukan tindakan yang sama dengan jenis tindakan yang mungkin berbeda? Misalnya memukulinya… Apakah permasalahan memberikan kesadaran berkendara secara aman itu dapat tersampaikan pesannya?? Yang ada malah barbarisme, yang kuat dia menang. Lalu buat apa dia mengaku sebagai orang yang cukup tahu mengenai cara berkendara yang aman???

Yah, gue juga nggak terlalu pandai dalam menanggapi hal tersebut di jalan, tapi gue mencoba untuk lebih sabar di jalanan, karena menurut gue yang namanya kesabaran itu dapat dilatih jadi gue harus selalu mencoba berlatih kesabaran. Kenapa gue tiba-tiba posting kayak gini??? Karena membaca masalah respon terhadap pengendara lain yang sembarangan, cukup kerasa janggal dan cukup anarkis sera terkesan kasar. Atau mungkin gue yang terlalu naif akan hal ini??? Bila kita menunjuk pada orang lain, 4 jari yang lain menunjuk pada diri kita sendiri. Sudahkah kita benar? Benar dalam artian yang luas ya, benar dalam artian tidak merugikan orang lain dan tidak menyebabkan orang lain celaka. Sudahkah kita berkaca pada diri kita sendiri saat kita meresepon akan suatu permasalahan? Yah.. gue kan sebagai anak kecil yang nggak punya pengalaman banyak dan masih hijau di dunia ini, berharap dapat bimbingan dari yang lebih bijak dan lebih sabar serta mau berbagi masalah kesabaran. Semoga kita jadi manusia yang lebih baik dengan bersikap lebih bijak akan berbagai hal. Amin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: